NATAL DAN ORANG MUDA KATOLIK
Natal datang kembali ditengah krisis multidimensi bangsa ini yang tak kunjung berakhir. Krisis ekonomi yang panjang berdampak pada pergeseran nilai – nilai agama dan budaya dari bangsa yang konon katanya santun dan ramah, menjadi bangsa yang egois-hedonis-materealistis. Sikap menghalalkan segala cara untuk mengejar kedudukan,jabatan dan popularitas, dan hanya mementingkan diri sendiri serta kelompok tertentu, dijaman ini bukan cuma wacana, tetapi sudah pada tingkat kriminal.
Berbagai himbauan dan pencerahan untuk mengembalikan nilai-nilai agama dan budaya namun dianggap cuma refresing diakhir pekan. Kotbah di gereja hanya sebagai celoteh untuk menghibur atau juga sekedar merenggangkan urat saraf yang tegang, dan terkesan sebagai suatu kegiatan onani otak. Ikut aktif dalam kegiatan rohani hanya sebagai tameng untuk menutupi semua dosa-dosa. Dan sering kali hanya dijadikan sebagai suatu alat untuk mencari nama dan tujuan tertentu. Sungguh suatu realita bangsa yang memilukan.
Orang Muda katholik
Ditengah realita seperti diatas, eksistensi kaum muda dipertanyakan, karena orang muda sebagai nadi perkembangan agama dan bangsa. Hampir disetiap organisasi gereja mengalami kerisis kader yang disebabkan kaum muda katolik ikut hanyut dalam arus kemajuan jaman. Orang muda dihadapkan pada satu pertanyaan yang pantas untuk kita renungkan bersama yakni; HENDAK KEMANA MAHASISWA KATOLIK SEBAGAI PENERUS BANGSA DAN GEREJA? Mari kita bersama-sama mencermati perjalanan keterlibatan mahasiswa katolik dalam mewarnai hidup bermayarakat, baik dalam intern gereja maupun dalam ekstern kampus, terlebih lagi dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga akhirnya kita paham harus berbuat apa untuk menjawab pertanyaan besar tersebut.
Banyak mahasiswa katolik yang tidak terlibat dalam kegiatan organisasi gerejani seperti MUDIKA dan tidak terlalu barperan dalam kegiatan lingkungan seperti doa rosario atau juga koor lingkungan. Hal ini disebabkan karena minat mereka belum ditumbuh-kembangkan atau juga mereka tidak terlalu tanggap terhadap masalah –masalah sosial yang ada disekitar mereka. Banyak mahasiswa katolik yang belum terlibat dalam aktivitas kampus seperti unit aktifitas mahasiswa dan organisasi diluar kampus seperti PMKRI dan Pemuda katolik, karena mereka belum paham bahwa dengan berorganisasi dapat membangun mental dan pola pikir dalam bertindak untuk menyikapi gejala- gejala sosial, ketika kembali hidup bermasyarakat. Untuk itu perlu dipahami bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya diperoleh lewat ceramah dosen tetapi juga lewat berinteraksi dalam organisasi dan bermasyarakat.
Begitu banyak mahasiswa katholik yang masih bingung untuk tentukan pilihan dalam berorganisasi, mereka belum menemukan kepribadian mereka dan akhirnya memilih untuk menjadi kelompok eksklusif intelektualis [baca;ke kampus,kuliah,pulang] atau merasa mengambang dan tidak tahu harus membuat apa yang penting enjoi.
Menanggapi paparan realita mahasiswa katolik yang lebih banyak tidak tahu harus melakukan apa, bersikap bagaimana dalam mengambil peran dan terlibat aktif di masyarakat, bijaksanalah bila kita mengingat kembali pesan alm. Mgr Soegijapranata,Sj, seorang pahlawan nasional yang menyatakan kepada umat katolik Indonesia untuk 100% Katolik dan 100% Indonesia. Hal tersebut mengandalkan suatu bentuk kader kristiani yang menuntut suatu keberanian untuk membuka diri terhadap perbedaan perbedaan yang ada, sehingga mau dan mampu untuk bekerja sama dengan orang lain dan mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat tanpa harus mengorbankan prinsip hidup kristiani, serta kehilangan arah dan tujuan dari yang kita lakukan. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu; mulai membuka diri dengan hal-hal yang terjadi di masyarakat, membangkitkan minat berorganisasi, melakukan kaderisasi secara teratur, menanamkan sikap-sikap positif, meningkatkan kemampuan berorganisasi dan melatih kepekaan social dan yang lebih penting adalah kemauan kita untuk bertindak melakukan hal yang sudah kita pikirkan dan hal yang dibutuhkan masyarakat, gereja dan bangsa. Sehingga masalah-masalah yang ada tidak sekedar menjadi wacana kita sebagai masyarakat intelektual, namun harus dilakukan pemecahan sehingga masalah yang ada mempunyai jawaban.
Hikmah Natal
Ketika natal kita rayakan, sebenarnya kita sedang merayakan kelahiran kita sendiri. Kelahiran sikap dan perilaku kita dengan meninggalkan semua tindak tanduk kita dimasa lampau. Natal bukan cuma pesta keagamaan tetapi sebuah pesta kemanusiaan, karena itu tempat yang tepat untuk merayakan Natal adalah dalam hati dan kehidupan sehari-hari yang harmonis dan penuh kebahagiaan.
Natal bukan soal berhura –hura, natal bukan soal baju baru atau aneka parfum baru, karana ketika Yesus menyaksikan perilaku kita –Dia akan berkata; ’’Lihatlah dari sini terdengar nyanyian tentang damai yang lahir, tetapi damai itu tak pernah hadir didalam hati mereka. Di sini mereka mengamini tugas dan mendemonstrasikan kasih kepada dunia tetapi mereka tidak mengasihi aku dan sesama mereka. Lalu menangislah Yesus tersedu-sedu karena menyaksikan kota dan anak-anak-Nya disini yang sudah berubah. Dia menangis karena ketika lagu malam kudus dinyanyikan dengan indah pada suatu malam yang tidak kudus. Dia menangis karena nyala pohon terang hanya memuaskan selera –selera rendah manusia. Dia menangis ketika nama-Nya dicetak untuk kartu masuk; kartu untuk masuk kedunia lupa diri dan kemaksiatan. Dia menangis karena pengorbanan –Nya sia-sia, dan -Dia lebih menangis lagi karena manusia tidak sadar akan dirinya sendiri. Yang terutama dalam natal ini, adalah teladan Yesus Anak Domba Allah yang Kudus dalam mengorbankan diri untuk kita manusia yang berdosa ini. Dari surga yang kudus, Yesus rela datang ke dunia ini untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. Menyikapi makna natal yang paling mendasar ini, hendaknya kita manusia mau dan rela untuk meneladani pengorbanan Yesus. Dalam setiap tindakan, hendaknya kita manusia terutama kita kaum muda gereja jangan hanya melakukan kegiatan terutama kegiatan gerejani dan social kemasyrakatan hanya untuk mencari nama, materi, dan embel-embel duniawi lainnya. Namun kita harus melakukan dengan penuh kesadaran bahwa kita melakukan kegiatan itu untuk Yesus sebagai juru selamat kita. Jadi dengan kenyataan ini, dapatlah kita bertanya dalam diri kita. ”Jika Yesus saja mau mengorbankan nyawa-Nya untuk kita manusia yang berdosa, mengapa kita tidak pernah bisa memberikan sedikit dari yang kita punya bagi sesama kita yang membutuhkan dengan rela dan ikhlas demi Yesus Kristus Juru Selamat kita?”
Untuk itu orang muda; Memang berbahagialah mereka yang mati muda sehingga tidak berbuat banyak. Tetapi ingat, hal terbodoh adalah jika kita ingin mati muda. Jangan kita ingin mati muda tanpa melakukan sesuatu. Negara dan gereja membutuhkanmu dalam menjawab tantangan masa depan dunia.Siapa lagi yang bisa menjawab tantangan masa depan dunia jika bukan kita, generasi muda? Lakukan sesuatu yang berguna ;Baik untuk gereja, negara dan dirimu sendiri sebelum kalian mati ,sebab tak seorangpun tahu ,kapan maut akan menjemput kita.
Semoga dengan itu semua, sedikit demi sedikit kita bisa menjawab dan menyikapi secara positif bahwa orang muda katolik adalah tulang punggung bangsa dan gereja. Qua vadis mahasiswa katolik, selamat berjuang kawan kawan. Pro Ecclesia et Patria!!!
Minggu, 09 November 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
Sip...Aku setuju dengan tulisanmu.Terus berkarya !
Posting Komentar